Langsung ke konten utama

Yuk kenalan sama numismatik

Banyak sekali cara untuk menyalurkan hobi, baik berupa aktivitas yang bergerak, maupun mengumpulkan barang-barang yang mampu menarik minat kita. Ada yang suka mengoleksi barang antik, mainan, buku, maupun koin. Untuk poin terakhir, perkenankan saya untuk sedikit mengupas tentang hobi yang satu ini.

Kawan, hobi yang meliputi pengumpulan koin bisa di kategorikan sebagai numismatik. Apa itu numismatik ? Mengutip artikel dari majalah numismatika bulan juli tahun 2005, numismatik adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang koin, token, uang kertas, dan alat-alat tukar lainnya, serta medali.

Bisa dibilang, numismatik adalah hobi mengoleksi koin atau barang-barang yang berhubungan dengan alat tukar maupun transaksi dalam keseharian, baik yang lampau maupun saat ini. Numismatik juga masih kerabat dari hobi filateri yang lebih dulu booming dengan perangko, sedang numismatik lebih fokus pada alat tukarnya.

Numismatik menjadi hobi yang menjanjikan, karena selain sebagai hobi, ternyata dapat menjadi cara investasi kita dalam kurun waktu yang panjang. Menurut rahmad zainuddin, seorang praktisi numismatik, investasi dalam wujud koin memiliki keunggulan tersendiri dibandingkan dengan berinvestasi dalam bentuk saham maupun media investasi lainnya karena yang menjadi acuan adalah nilai intrinsiknya, yaitu nilai bahan dasar pembuatan koin.

Menurutnya, bila kita berinvestasi dalam bentuk saham ada kemungkinan terjadi perubahan nilai yang fluktuatif, kadang naik kadang turun, dalam waktu yang tak menentu. Sedang bila kita berinvestasi dalam bentuk koin. Perubahan nilainya stabil, bahkan cenderung naik dari waktu ke waktu tergantung intrinsiknya.

Biasanya yang menjadi primadona dalam mengoleksi koin adalah koin yang terbuat dari emas maupun perak, walaupun logam lainnya seperti nikel, kuningan, perunggu, dan lainnya juga memiliki jual tersendiri tergantung kondisi, kelangkaan, dan nilai intrinsiknya. Misal koin Rp. 50 rupiah kuningan gambar komodo tahun 1997 dibandrol Rp. 50.000 yang bida dibilang sangat mahal dibanding bahan dasarnya sendiri karena langkanya uang tersebut.

Jadi, mungkin sudah mulai saatnya kita berkenalan dengan numismatik, selain ada sensasi tersendiri dalam berburu koin langka juga bisa menjadi cara nabung yang aman selain menabung di bank. Lumayan kawan,, hobi yang bisa menjadi usaha. [Ky. H]

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Misteri hilangnya uang receh kita

Kawan, pernahkan anda memperhatikan akhir-akhir ini  uang pecahan seribu rupiah mulai langka ? Tidak hanya uang pecahan seribu kertas saja, tetapi hampir semua. Baik pecahan baru maupun lama, baik uang kertas maupun logam kini sukar sekali kita temui. Salah satu teman saya pernah, Ahmad Fauzi berkata bahwasanya kini mencari uang receh seperti uang seribu begitu sulit dicari. Ketika membeli nasi goreng yang seharga Rp. 9000 dan membayarnya dengan uang Rp. 20.000 maka sang penjual nasi goreng akan bertanya apakah ada uang pas. Bila ada uang pas ? jika tak ada biasanya penjual meminta uang dua ribu agar digenapkan. Tak hanya pada penjual nasi goreng, nyaris semua penjual dan pemilik toko kini kesulitan memberi kembalian dengan pecahan seribu. Biasanya bila tak ada uang pecahan seribu banyak yang menggunakan uang pecahan lima ratus atau dua ratus rupiah, itu sudah termasuk "beruntung" karena pada kenyataannya pembeli malah diberi kembalian permen. Melihat kondisi seperti ini...

Cari tahu asal kata "duit"

Kawan, mungkin kita sudah tak asing lagi dengan kata duit, mulai dari duit panjer, duit kaget, hingga istilah mata duitan menjadi salah satu kosakata yang jamak kita dengar dalam kesehariab kita, namun, kira-kira apakah kawan tahu dari mana asal kata duit tersebut ? Selidik demi selidik, dari percakapan dengan salah seorang kolektor senior numismatik, rahmad zainuddin dan jomink olleolla, asal kata duit berasal dari salah satu mata uang yang digunakan oleh Kongsi dagang belanda (VOC) dalam bertransaksi dengan warga pribumi. Uang yang terbuat dari tembaga ini disebut dengan "doit" menjadi cikal bakal kosakata duit yang selalu merujuk pada uang. Uang tembaga yang berasal dari belanda ini menjadi alat transaksi di indonesia mulai tahun 1700 hingga akhir tahun 1800 bersamaan dengan bubarnya perusahaan dagang multinasional VOC dan mulai diganti dengan mata uang  negara belanda, yaitu gulden.  Duit dibuat dengan cara di press, biasanya dicetat di provinsi berbeda di belanda, ada...

Terjajah oleh uang asing

Kawan, di pembahasan kemarin pernah saya singgung tentang koin perak belanda yang memandekkan koin nusantara di berbagai daerah. Uang nusantara yang dahulu masih bisa dipakai di berbagai daerah harus bertekuk lutut dengan uang asing yang kalau boleh jujur lebih cantik dan bernilai dibanding milik kita sendiri. Pada dasarnya, yang menjadikan koin menjadi bernilai kala itu adalah melihat bahan dasarnya. Nilai intrinsik menjadi acuan kala bertransaksi, sehingga hal itu yang mendorong para pedagang dari luar negeri mau berdagang ke nusantara. Karena uang mereka masih bisa digunakan asal bahan koinnya bernilai seperti emas atau perak. Dan nilai tukar jaman dulu sudah ada tetapi masih sederhana. 30 keping koin perak bila ditukar akan mendapat satu keping koin emas. Satu keping koin perak akan setara dengan 30 keping koin dari tembaga atau 60 keping koin timah. Sayangnya tak semua tempat di nusantara memiliki cadangan emas maupun perak, jadi mau tak mau mereka menggunakan uang asing sebagai...